Karena Aku Lebih Tau 1

Maret 19, 2008

“Kegagalan adalah kesuksesan yg tertunda”

Ternyata mantra itu sudah tdk mempan lg utk menyemangati diri saya yg selalu merasa gagal dlm banyak hal. Seolah-olah tdk ada satu-pun achievement yg sudah diraih. Tentu harapannya bahwa ini hanyalah perasaan saya saja, yg kata bbrp sahabat disebabkan karena saya kurang bersyukur dan bersabar saja. Bener nggak ya…?

Sebenarnya bukannya tdk pernah sabar ataupun syukur, tp sbg manusia biasa yg apa adanya, kekhilafan selalu saja menyertai perjalanan iman saya yg menyebabkan kadarnya jd fluktuatif spt harga saham di bursa efek. Dan sekedar untuk menghibur diri, melalui tulisan ini, semoga bisa mengembalikan semangat saya yg sudah kedip2 spt hp lowbat.

Setelah berpikir sejenak dgn otak yg pas2an ini……”ting”!!….timbullah ide cemerlang bahwa sepertinya saya harus merevisi slogan “Kegagalan adalah Sukses Yg Tertunda”. Tentu saja…!!, karena saya merasa slogan itu kurang relevan lg bwt sy. Tiap org yg pernah sukses lah yg bisa berkata demikian. Sedangkan saya yg blm pernah sukses mana bisa bilang begitu (kata2 org yg kurang bersyukur neh…jgn ditiru ya…!!).

Sama halnya dg lagunya Raihan, yg “Ingat 5 perkara sblm 5 Perkara”, ada beberapa yg agak kurang bisa saya terima dg otak sy yg dikit ini, dan mungkin jg wujud ke kurang sukur-an saya kpd Allah.

  • Ingat muda sbl tua -> kalo blm pernah tua…gimana bs ingat muda
  • Ingat sehat sbl sakit -> kalo sakit baru ingat sehat…
  • Ingat lapang sbl sempit -> kalo sempit baru inget lapang…
  • Ingat kaya sebelum miskin -> kaya aja belom…
  • Ingat hidup sebelum mati -> ingat hidup sebelum hidup abadi…

Kali ini saya tidak bermaksud sama sekali utk mengolok-olok sebuah ajaran yg penuh kebijaksanaan ini. Yang kalau tdk salah, ini merupakan salah satu hadits nabi. Saya hanya ingin meluruskan pemahaman saya saja kok, sehingga dapat mengambil manfaatnya.

Tentunya kata2 yg bijaksana itu tidak dibuat dgn sembarangan, dan seharusnya bisa digunakan sbg referensi kita untuk dijalankan. Tetapi, seperti katayoi td, ajaran2 tersebut baru bisa berlaku kalau kita sudah mengalaminya.

Misalnya, “Ingat Kaya Sebelum Miskin”, … bagaimana bisa ingat… kalau kaya saja belum. Kata teman saya yg alim, itu maksudnya kita disuruh mensyukuri keadaan kita yg sekarang sebelum kejadiannya lebih jelek dr sekarang. Lha kok…!?

Mendengar penjelasan teman td saya malah tambah ‘ndlongop’, karena di situ saya dengar nada2 pesimis sedang dimainkan dg nada dasar ‘A minor’ diiringi orchestra yg menyayat hati. Seolah2 kita ini disuruh bersyukur sebelum dipaksa bersabar karena nikmat yg didapat akan ditarik lagi atau sekedar dikurangi. Bukankan Allah justru akan menambah nikmat orang yg bersukur?

Ditengah2 kegalauan ini, saya jd teringat suatu ayat di Al Quran yg jarang2 saya baca, jd jgn tanya saya ttg surat dan ayat berapa dlm Al Quran. Ayat2 ini menceritakan ttg kisah mula2 diciptakan manusia oleh Allah. Di situ kurang lebih diceritakan bahwa ketika Allah hendak menciptakan manusia, malaikat pada protes. Kata malaikat, mengapa engkau ciptakan manusia yg akan berbuat kerusakan di bumi dan menimbulkan pertumpahan darah? Lalu jawab Allah, Aku lebih mengetahui segala sesuatu…

Nah…kalau Allah lebih mengetahui segala sesuatu…saya jd sadar bahwa sbg mahluk ciptaannya tidak mengetahui segala sesuatu kecuali atas izinNya.

“Terus apa hubungannya dg yg tadi??”, kata teman saya.

“Hubungannya yaa … baik2 saja”, katayoi.

Maksud saya begini, sbg manusia biasa adalah wajar bila tidak mengetahui segala hal yg terjadi. Karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sifat manusia yg demikian ini tidak selalu berkonotasi buruk karena memang manusia diciptakan demikian. Bahkan sifat2 ini bisa menjadi hal yg positif bila kita sikapi dengan benar.

Pemberian Allah berupa ketidak-tahuan manusia beserta sifatnya yg sering salah dan lupa itu, sebenarnya merupakan anugerah yg tak ternilai harganya. Setidaknya hal inilah yg saya rasakan ketika belajar memahami menjadi seorang entrepreneur. Lalu saya jd teringat cerita ttg hal ini.

Suatu ketika ada seseorang yg mengadu nasib menjadi penjual Nasi Goreng”. Pada hari pertama ia menyediakan 1 bakul penuh nasi sebagai bahannya. Tapi karena dagangannya hari itu tidak laku, maka pada keesokan harinya dia mengurangi jumlah persediaan nasinya sebanyak seperempat bagian. Dan karena pada hari kedua itu dagangannya belum laku juga, maka pada hari ketiga nasinya dikurangi lagi menjadi hanya setengah bakul. Demikian jg pada hari ke-4 dan seterusnya sampai hari ke-5, dan ahirnya dia tidak lagi berjualan.

Sekilas kalau kita cermati kisah penjual nasi goreng tadi, secara logika, sangat masuk akal dan tidak ada yang salah dengan apa yg dia lakukan. Bahwa mengurangi jumlah dagangannya setelah hari sebelumnya tidak laku, adalah sangat rasional untuk mengurangi jumlah kerugian yg mungkin ditimbulkan. Tapi pada kenyataannya kok…, hasilnya tidak sesuai dengan yg diharapkan meskipun dia sudah bertindak dengan rasional (doing the right things).

Dengan demikian, sisi rasionalitas saja ternyata tidak cukup untuk membuat suatu keputusan. Karena diperlukan juga sisi irasionalitas dalam diri kita sebagai pertimbangannya. Seperti penjual nasi goreng tadi, kalau saja dia, dengan segala ketidak-rasional-annya, berfikir bahwa pada hari berikutnya akan ada banyak orang yg mau membeli nasi gorengnya, maka dia tidak perlu gulung tikar dan bahkan mungkin usahanya malah bertambah maju (doing the things right). Ini bukanlah omong kosong saya saja lho, tetapi memang demikian adanya. Bukankah kita tidak pernah tahu rejeki Allah yg akan diberikan kepada kita besok?

Karena saya lihat anda dan teman saya malah tambah ‘ndongop bahkan sedikit nge-cess karena bingung, lain kali kita kalau ada kesempatan akan bahas ini lebih lanjut, karena sekarang saya jg jadi bingung…gubraaak???!!

Biar endingnya keliatan agak bagus, maka akan sangat bijaksana kalau saya nyatakan bahwa tulisan ini:

BERSAMBUNG sampai batas waktu yg tdk ditentukan

katayoi yg apa adanya

Tinggalkan Balasan